Wednesday, June 11, 2014

Creating Art From The Heart


Kali ini gw ingin bicara tentang seni sebagai terapi. Gw sudah sangat amat merasakan manfaat seni sebagai lini kedua gw dalam menemani kebipolaran gw. Semoga teman-teman juga bisa merasakan manfaatnya. Ini gw share sedikit tentang konsep berkarya gw..

Semua berawal saat gw melihat lukisan Vincent van Gogh yang Starry Night ( pernah beberapa kali gw bahas disini ). Melihat lukisan itu gw jadi pengen menggambar lagi. Gw belilah buku mewarnai anak tk itu, gw ga mau sekedar ngasih warna terus udah aja gitu, jadi gw mengisi gambar-gambar itu dengan pattern. Bagi gw itu lebih menantang. Terus terpikirlah kenapa ga buat gambar sendiri dengan satu warna aja, kayaknya asik. Dan gw pilihlah hitam putih.

Jika dilihat proses berkaryanya, dulu karya gw sederhana sekali. Tetap, setiap menggambar gw sedang mengalami moment yang tidak bisa diulang. Seluruh ide, emosi, energi melebur jadi satu di sebuah karya tersebut. Tidak bisa ditunda juga. Harus keluar karena itulah bentuk ekspresi terdalam gw. Dan setelah keluar ekspresinya, leganya nikmat.

Gw lakukan terus hal itu saat gw galau. Kemana-mana gw bawa sketchbook dan spidol. Simple untuk dibawa-bawa, itu juga alasan kenapa gw memilih hitam putih. Tidak terasa, sudah 4 tahun gw menggambar. Kini terkumpul hampir 100 gambar hitam putih di kertas A4 dan A5. Gw sendiri kadang takjub, ternyata sudah begitu banyak moment yang gw lewati.

Nah, hal yang lucu menurut gw adalah, pada dasarnya gw ga bisa gambar. Gw sama sekali ga tau teori seni atau cara menggambar. Gw ga bisa gambar orang dengan ekspresi atau benda dengan perspektif. Gw cuma menggambar sebisa gw, mengikuti intuisi, mengalir bersama rasa. Saat memulai menggambar ya gw ga mikir bakal jadi kaya apa atau pake teknik apa. Cuma ide kasar apa yang mau gw buat. Lalu semua mengalir begitu saja, mungkin kelebihan gw adalah sisi artistiknya.

Hal lucu ini belakangan membuat gw minder dan bingung. Orang-orang bahkan seniman dan kurator ternama mengatakan karya gw menarik ( maaf ya sombong dikit ehehe ). Padahal kan gw ga bisa gambar. Bentukan orang gw siluet semua haha. Lantas gw jadi mengatakan ke diri gw bahwa I'm not good enough, I'm bad, etc yang akhirnya menggangu pikiran. Padahal berkarya mah berkarya aja, ga usah gimana-gimana amat. Sampai akhirnya gw menemukan quotes dari ( lagi-lagi ) Van Gogh :

“If you hear a voice within you say you cannot paint, then by all means paint and that voice will be silenced.” ― Vincent van Gogh

Nah, bagi gw itu artinya cukup dalam. Saat pikiran2 gw mengatakan gw ga bisa gambar, yang harus gw lakukan adalah berkarya lebih banyak sebagai bentuk pembelajaran dan bukti konsistensi. Hal ini bisa berlaku untuk hal lain diluar menggambar juga.

Kira-kira begitu cerita gw tentang moment berkarya gw. Tips bagi teman-teman yang mau menerapkan art therapy / expressive art dari gw :

  • Saat memulai, niatkan untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran dan jiwa. Bukan untuk membuat karya seni yang indah atau mengindah-indahkan sesuatu yang telah tercipta.
  • Tidak harus bisa menggambar untuk menerapkan seni sebagai terapi. Lakukan saja sesuka hati, kemanapun jiwa membawa mengalir.
  • Jangan terlalu pusing mikirin teknik atau komposisi atau apalah itu teori-teori. Kan mau berekspresi untuk terapi, karya adalah bonus dari terapi. Bagus jelek karyanya bukan hal yang penting.
  • Nikmati prosesnya. Larutlah dalam setiap detik ekspresi yang terungkap dan emosi yang keluar. Harapannya saat sudah selesai, pikiran dan hati terasa lebih lega.
  • Konsisten. Lakukan setiap "moment" itu dirasakan datang. Nanti akan terasa kenikmatannya jika sudah terbiasa.

Kira-kira begitu tips dari pengalaman gw. Oh ya, gw bukan expert di bidang seni atau psikologi. Gw hanya memberi pandangan dari apa yang gw rasakan. Ambil baiknya saja sesuai bagaimana teman-teman rasakan nyaman. Jangan jadi pusing karena dipaksakan. Banyak cara selain menggambar kok. So, salam sehat jiwa. SemangArt ! : )

Karya-karya gw bisa dilihat di www.vindyariella.blogspot.com


Saturday, May 24, 2014

Kunci Pembuka Segalanya

Hi, sudah lama ga update blog. Dan sempet beberapa kali di private juga karena ( sayangnya ) paranoid gw sedang muncul. Sekarang kondisi sedang oke, update dikit.  : )

Sesuai judul, gw tekankan lagi kunci-kunci pembuka segalanya. Pembuka kelapangan, ketenangan, kedamaian, dsb. Ini juga gw masukan sedikit hasil diskusi dengan psikolog + psikiater.

1. JANGAN TERJEBAK MASA LALU

Ini sudah berkali-kali gw bilang. Ini ajaran pertama guru gw. Masa lalu itu adalah untuk pembelajaran. Jangan sampai terjebak di dalamnya karena itu akan menghilangkan segala kunci-kunci pembuka. Coba ya dibayangkan, apa untungnya kita bertanya-tanya "kenapa dulu saya begini, kenapa dia dulu begitu, kenapa kenapa kenapa" padahal semua itu sudah berlalu. Apa nggak capek ? Mau dirubah juga ga bisa. Cukup jadikan pelajaran dan jadikan modal untuk terus maju. Itu namanya move on. Jadi move on itu ga cuma untuk abis ditinggal pacar ya.. hehe

2. PENERIMAAN

Biasanya kalau sudah bisa move on dari masa lalu, tahapan penerimaan ini bisa lebih enteng. Menerima juga bukan sekedar "oke saya kuat sabar". Tapi cobalah menanam cinta kasih kepada sesama, syukuri hidup ini apa adanya, tebarkan kebaikan kemanapun kaki melangkah. Pada akhirnya kita melihat hidup dari sisi yang berbeda, lalu munculah penerimaan bahwa kondisi yang kita alami sekarang adalah jalan hidup kita yang harus dilalui. Mau apa jika jalannya sudah ditetapkan ? Berontak ? Ya buang energi lah. Jadi terima dengan utuh apa yang kita miliki sekarang. Ngomong memang gampang. Tiba2 menolak lagi juga wajar. Ya diingat2 terus untuk bisa kembali berdamai. Nantinya walaupun depresi tetap melanda, akan lebih mudah berlalu dan juga tidak berat2 amat gejalanya. Ini yang gw rasa sekarang.

                         

3. KESADARAN AKAN SAAT INI

Yang dimaksud disini adalah, dalam tiap hari kita, tiap detik kita, dinikmati saja. Dulu gw kalau lagi mood naik suka takut karena terpikir abis hipomanik muncul depresi. Sekarang ya nikmati aja, jangan khawatir berlebihan. Cukup aware akan gejala, lalu aware terus bahwa yg harus dijalankan oleh kita ya detik ini. Kalau sedang depresi, mungkin waktu akan terasa lama dan menyiksa, but that's ok. Itu hanya bagian dari bipolar. Bukan diri kita. Berat ? Ya jelas. Gw ga pengen menye2 kaya motivator yang penuh gairah. Gw akui, memang berat. Yakinlah jika sudah biasa depresinya akan berdamai sendiri dengan jiwa kita. Terdengar lucu ? Memang. Kok orang depresi bisa berdamai. Ya itulah uniknya bipolar. Kadang datang tanpa sebab hilang dengan sendirinya digantikan fase lain. Karena itu poin nomor 2 sangatlah penting.

4. KENALI - SADARI - KELOLA


Ini gw dapat dari sesi konseling kelompok. Ini juga merupakan langkah penting dalam perjalan seorang bipolar. Pertama, cari tahu dalam diri kita maniknya itu yg bagaimana tandanya, depresinya itu bagaimana, berapa lama siklusnya, dsb. Sehingga saat mulai muncul gejala kita bisa sadari. Mungkin perlu minum obat tambahan, atau terapi lain, perlu refreshing. Pada akhirnya, semua gejala itu bisa kita kelola. Mengelola adalah tujuan akhir dari segalanya. Karena ( katanya ) bipolar tidak bisa dibilang sembuh total, maka mengelola ini kata yang lebih tepat. Dengan mengelola, gejala bisa hilang dan kita kembali berfungsi sebagaimana orang lain. Kalaupun masih ada gejala, dengan pengelolaan yang baik akan bisa diminimalisir. So, cobalah cari strategi pengelolaan yang baik dan cocok untuk masing-masing odb. Pasti ada. Jangan gampang putus asa dalam mencari strateginya ya..

Pokoknya tetap semangat. Semua hal yang ada pada diri kita ini ada hikmahnya. Bipolar ada obatnya, ada psikoterapinya, ada support lingkungan pula di Bipolar Care Indonesia. Jadi teruslah berjuang. Sekian terima kasih. : )

Saturday, April 12, 2014

Monday, March 17, 2014

Curhat ( 58 )

Hi. Mau update dikit.

Di post terakhir gw tampak sudah menjalani hidup baru. Ya memang begitu adanya, tapi tetap masih ada depresi dalam hidup gw. It's ok. Saat baik jalani segalanya sebaik mungkin. Saat tidak baik istirahat dulu untuk siapkan diri agar segera baik lagi. Memang begitu hidup bukan ?

Dulu, saat belum bisa menerima bipolar sebagai bagian hidup, setiap depresi muncul amarah kepada Tuhan, masa lalu, dsb. Jadi depresi yang sudah ada tambah berat karena terpengaruh pikiran-pikiran yang seharusnya bisa gak dipikirin. Sekarang setelah memahami dan menerima, saat depresi yaudah gw depresi aja. Menderita ya tentu, namanya juga depresi. Mengeluh wajar. Minta dukungan sangat normal. Gw juga manusia. Sekuat-kuat dan sebijak-bijaknya gw, saat sedang dalam masalah atau emosi negatif ya gw butuh pertolongan dan istirahat juga.

Coba dipikir lagi, ga capek apa ya marah2 mulu ama keadaan yg tidak bisa dirubah ? Meningan tenaganya dipake untuk fokus yang lain. Menumbuhkan cinta kasih, mencari makna dari tiap peristiwa, mendekat pada Sang Pencipta, belajar berdamai, melatih mindfulness. Banyak hal yg bisa dikerjakan. Dan bukan bermaksud untuk nakutin, di gw walaupun sudah mencoba dan terus belajar hal2 tersebut, tetap sakit itu masih ada. Gw ga mau menye2 bilang dijamin tenang jika sudah berdamai. Nggak begitu ternyata. Kalau dulu gw pernah ngomong gitu ya maaf deh. Haha.

Tapi yang pasti, dengan menerima, reaksi kita terhadap depresi dan emosi negatif lainnya tidak selebay kalau kita tidak menerima. Kalau keadaan lagi baik coba juga untuk meditasi. Jadi yg negatif bisa mengalir pergi seiring hembusan nafas. Baca-baca tentang mindfulness juga deh. Itu sangat membantu gw.

Hmm ya jadi intinya sebenarnya gw mau menyampaikan kalau gw sedang depresi. Haha. Ga berat2 amet sih. Tapi cukup membuat kerjaan berantakan dan memporak-porandakan isi jiwa. Ya gpp, nanti juga berlalu. Nikmati aja saat2 otak blank, konsentrasi susah, lelah, dan emosi tertekan yg tanpa sebab. Sambil minta dukungan orang-orang dekat. :')

Wednesday, February 19, 2014

Work Hard Play Hard

Hi. Saatnya update blog. : )

Di post-post sebelumnya gw masih membahas tentang rencana kedepan setelah melepas impian untuk menjadi dokter. Sekarang gw jadi freelancer design grafis + ilustrator. Seni lukis / gambar-gambar yang biasanya gw post itu adalah untuk terapi gw. Sedangkan design adalah untuk kerjaan.

Kalau dipikir-pikir, rencana Allah itu manis-pahit. Sejak SMA gw suka dunia seni dan design. Memang menjadi dokter adalah cita-cita dari kecil yang gw juga kadang ga tau kenapa mau jadi dokter. Cita-cita kedua gw adalah di bidang design. Gw suka keduanya. Dari hasil psikotes juga hasilnya 2 bidang itu. Nah pas mau penjurusan SMA, sebenarnya gw masuk IPS. Dan gw yaudah ikhlas aja ga jadi dokter. Toh masih bisa ambil design. Tapi ternyata orang tua tidak sejalan dan gw diusahakan masuk IPA, berhasil dan jadilah gw anak IPA lalu kuliah kedokteran.

Di semester 5, gw didiagnosa bipolar. Berhasil meraih S.Ked, menjalani setengah perjalanan koass ( kisahnya bisa dibaca semua di blog ini ), lalu memutuskan pindah haluan ke dunia seni dan sempat kehilangan arah. Gw pernah bilang bahwa gw fokus dulu untuk memperbaiki diri. Gw dekatkan diri pada Allah, ibadah, dan meditasi juga. Obat jalan terus. Dukungan dari psikiater dan pembimbing gw juga berjalan baik. Dan disinilah gw sekarang..

Gw dulu berpikir, bagaimana harus memulai karena pada dasarnya gw belajar design, adobe photoshop, ilustrator, dll itu murni autodidak. Bagaimana gw melamar kerja dan harus menyusun CV / portfolio untuk bidang design sedangkan gw sarjana kedokteran. Bagaimana gw bisa bersaing dengan lulusan design grafis, DKV, dll. Bagaimana bagaimana bagaimana terus. Jadinya fokus gw bukan untuk memulai bertindak. Sehari-hari hanya mengurus komunitas. Sisanya memperbaiki diri dan nonton Spongebob. Tapi gw tidak pernah berhenti meminta melalui doa. Sampai suatu hari doa gw dijawab Allah SWT.

Mungkin memang sudah tepat saatnya. Gw bertemu kolega bokap yg masih sepupuan ama gw. Mereka sedang mengerjakan sebuah proyek dan butuh designer grafis juga ilustrator. Ya gw ambillah kesempatan ini untuk memulai langkah. Proyeknya menarik dan cukup besar. Jadilah gw mendesign dan membuat ilustrasi untuk proyek tersebut.

Sekarang sehari-hari gw tetap dirumah, sesekali ke kantor. Kalau ditanya gw kerja dimana, gw jawabnya di sofa. Haha. Ya, gw berada di depan sofa dari siang sampai malem, depan laptop dan alat gambar. Gw juga tetap bisa nonton Spongebob. ;p

Freelancer memang sepertinya yang terbaik dari Tuhan untuk gw. Walupun kalau ga pinter atur waktu akhirnya kerjaan numpuk menjelang deadline, tapi ini jauh lebih baik daripada gw stay di RS jaga IGD. Gw juga masih ada waktu untuk mengurus Bipolar Care Indonesia. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik so far.

Ya itulah hidup. Sudah diberikan jatahnya saat penjurusan SMA, tapi muter dulu, ujungnya balik ke yang sudah dijatahkan itu. Setiap manusia sudah ditetapkan jatahnya. Tapi dalam prosesnya melibatkan tangan kita juga. Mungkin itu yang disebut pilihan. Mempelajari, mengambil keputusan, diberi kesempatan belajar oleh Tuhan, kalau memang bukan jatahnya nanti diarahin lagi sama Tuhan.

Kalau dipikir lagi, seandainya dulu gw masuk IPS, lalu kuliah design, mungkin gw udah kerja jadi designer grafis / ilustrator yang lebih profesional. Gw juga ga pusing mikirin harus isi apa di bagian pendidikan CV. Rasa penyesalan ada lah. Cukup berikan senyuman. Ditambah air mata dikit boleh deh. Tapi jika gw ditanya "Seandainya dikasih kesempatan mengulang waktu, apakah akan berusaha merubahnya ?" jawaban gw adalah tidak. Karena jika gw tidak berputar dulu, gw belum tentu akan sekuat sekarang, bisa melihat sisi lain dari kehidupan dan memaknai misteri dari Tuhan. Yang terpenting, gw belum tentu bisa menjadi seperti diri gw yang sekarang. Itu yang gw sebut sebagai bijak menyikapi penyesalan. Untuk menjalankannya, gw akan selalu ingat peraturan pertama dari pembimbing dalam proses belajar gw :

"Boleh melihat masa lalu tapi jangan kembali kesana.." - J.K

So, cheer up ! Jangan mau dibayangi masa lalu yang gak bisa diubah. Apalagi terjebak didalamnya. Kita yang pegang kontrol untuk menjalankan hari ini, demi hari esok yang lebih baik. Terus belajar dan semangat ya..