Monday, October 15, 2012

Progress, or Regress ?

Well *muka sok bijak* setiap orang pasti pernah dan akan selalu ada dalam sebuah progress menuju kebaikan, kesembuhan, dan lainnya. Lalu bagaimana jika suatu hari ditengah progress itu orang tersebut mengalami regress ? Apakah sebenarnya regress itu adalah bagian dari progress itu, atau pertanda buruk terhadap progress yang sedang berlangsung ? Kali ini gw akan membahas ttg progress dan regress, dengan contoh kasusnya pengalaman gw sendiri. Semoga bermanfaat, dan correct me if I'm wrong.

# Progress #

Pertama, kita bahas dulu progress yang terjadi dalam diri gw. Setelah gw keluar dirawat yang abis dari Bali itu, gw melakukan beberapa hal yang menurut gw, itu adalah sebuah proses menuju kebaikan dan harapan untuk kesembuhan gw. Gw berkonsultasi dengan seorang psikiater yang berkonsep Mind Therapy. Sekilas tentang Mind Therapy versi beliau, terapi ini dilakukan dengan 3 cara. Obat, Konsultasi ( Ketemu langsung untuk mengeluarkan uneg2 dll ), dan Latihan Mindfulness. Nah mindfulness sendiri itu adalah sebuah konsep meditasi dari ajaran Buddha, yang kini banyak dipakai orang karena manfaatnya besar untuk kondisi kejiwaan dan kesehatan pada umumnya. Intinya, yang dilakukan saat latihan mindfulness itu adalah duduk tenang, fokus pada nafas selama beberapa waktu. Kalau gw 20 menit, 2 x sehari. Nah bedanya dengan meditasi atau relaksasi, saat meditasi dan relaksasi, kita mencoba mengosongkan pikiran, atau membawa pikiran ke tempat yang menyenangkan dan menanamkan kata positif dalam sesi tersebut. Sedangkan mindfulness tidak seperti itu. Saat fokus pada nafas, tentunya kita masih suka ada pikiran2 yang muncul secara random. Mungkin berupa perasaan nggak nyaman, khayalan, sampai rasa gatal dan mengantuk. Nah pada saat pikiran2 itu muncul, cobalah untuk 'sadari' dan biarkan pikiran itu berlalu tanpa menilai pikiran itu baik atau buruk. Cukup rasakan dan sadari. Bayangkan kita sedang menyaksikan / mengobservasi diri sendiri duduk tenang dan menyadari serta merasakan pikiran2 yang muncul. Nggak usah kembangkan pikiran itu dengan penilaian2 baik dan buruk. Misalnya muncul pikiran "tadi gw marah2 tanpa sebab", jangan melanjutkan dengan pikiran2 lain seperti "tuh kan gw marah2 gak jelas. gw udah kaya monster. gw nakutin orang2." Itu namanya kita ngejudge. Jadi cukup rasakan dan sadari bahwa "Oh jd seperti itu rasanya marah2 tanpa sebab." jadikan saja itu kekayaan batin. Kira-kira seperti itu. Gw sendiri masih belajar untuk bisa melakukannya secara benar. Yg penting adalah niat dan konsentrasi. Pada saat latihan, bukan berhasil atau tidaknya kita bertahan 20 menit. Tapi bagaimana kita konsisten menjadikan itu rutinitas. Gw sendiri masih bolong2 melakukan latihan itu. Hehe.

Apa manfaatnya ? Nah kalau pengalaman gw ( tapi perlu diingat gw masih pemula banget ), jika tenik mindfulness itu gw gabungkan dengan anger management yg sudah gw pelajari, itu cukup efektif untuk meredakan amarah atau keinginan2 aneh lainnya. Jadi disaat gw merasa mood sudah mulai gak enak, gw coba tenangkan diri, ambil wudhu dulu, terus konsentrasi menyadari apa yang gw rasa, dan menunda amarah itu. Kalau biasanya gw mengikuti hawa nafsu amarah itu tanpa bisa berpikir yang mana baik dan buruk, kali ini gw mencoba konsentrasi 'menikmati' rasa amarah itu menjadi bagian dari diri gw yang sedang gw rasa. Ya memang nggak semudah itu, perlu latihan. Hasilnya ya lumayan lah bisa meredakan gw beberapa kali dari keinginan marah dan shopping berlebihan.

2 minggu lebih berlatih mindfulness membuat gw merasa memiliki harapan untuk bisa sembuh dan stabil. Melanjutkan cita2 gw tanpa hambatan, dan menikmati hidup. Tapi ternyata, regress itu ada..

# Regress #

Gw memang bisa beberapa kali menghandle ups and downs mood gw serta amarahnya. Tapi ada 2 kejadian yang menurut gw itu kemunduran banget terhadap proses kepada kesembuhan yang sedang gw jalani. Jadi, suatu malam amarah gw memuncak. Sebabnya gak jelas. Yang pasti saat itu gw sedang batuk gak sembuh2. Mungkin karena batuk itu gw jadi gak bisa kemana-mana termasuk ke kampus ngurus skripsi atau jalan-jalan. Itu kemungkinan kenapa gw jadi bete. Kali itu gw sudah coba terapkan mindfulness, tapi terasa hanya bullshit saja. Anger management pun tak mempan. Gw bolak-balik ngiterin rumah. Sampai puncaknya, gw mengambil semacam pentongan kayu, dan gw pukulin kursi kayu di teras belakang rumah sampai hancur kayu kursinya kemana-mana. Gw pukul keras-keras sambil meneriakkan perasaan gw. Sebelumnya gw sudah melukai lengan dengan pisau sampai berdarah. Setelah ngerusak barang itu gw lebih tenang. Akhirnya gw naik ke kamar gw dan mengurung diri sampai besok sorenya. Menahan perasaan amarah yang masih tersisa. Akhirnya hilang sendiri amarah itu. Gw bersikeras tidak mau dibawa ke RS karena gw nggak mau dirawat lagi. Cukup sudah dengan rawat apalagi di bangsal jiwa. 1 hari setelahnya gw bertemu psikiater gw dan merencanakan apa yg harus gw lakukan kalau rasa itu muncul lagi. Saat itu solusinya, gw bisa lebih tenang jika bercerita. Jadi rencananya, kalau gw merasa seperti itu lagi gw dateng ke RS cukup untuk cerita ke dokter jaga mengungkapkan apa yang gw rasa, sebelum gw merusak barang atau melukai diri sendiri, jadi tidak perlu dirawat dan tidak bablas. Gw coba patuhi.

Seminggu kemudian, gw merasakan hal yang sama. Saat itu bener-bener nggak ada sebab dan memuncak cepat sekali irritable gw. Gw sedang di mobil bersama mama dari arah melawai mau ke UI jemput adek gw. Di jalan gw tiba2 kesel sendiri. Entah apa yang bikin gw kesel. Gw tahan kekesalan gw sambil mencoba mindfulness dan anger management. Tapi nggak ngefek. Rasanya tenaga gw banyak dan ingin gw salurkan tapi berhubung lagi di dalam mobil bingung juga mau ngapain. Akhirnya gw mukul-mukulin dashboard pake botol aqua dan ngomong-ngomong setengah teriak entah apa yang gw celotehkan. Sampai di rumah, tanpa pikir panjang gw langsung pergi jalan kaki keluar rumah. Ternyata mama buntutin gw. Lumayan jauh juga gw jalan, maksud gw biar menyalurkan energi gw yang berlebihan. Tapi setelah balik ke rumah, masih aja gw kesel. Gw bolak-balik dari teras depan ke belakang rumah ke depan lagi. Saat itu gw sudah bbm psikiater dan mas dokter gw tapi gak ada yang respon. Lalu gw ingin masuk kamar nyokap untuk meminta bantuan. Tapi ternyata nyokap mengunci pintu kamar. Aneh sekali. Gw tahu kunci kamar nyokap sudah tidak pernah digantung lagi sejak gw dulu pernah ngurung diri di kamar nyokap. Tp kali itu dikunci. Bokap diluar kamar. Dan yang terpikir oleh gw saat itu adalah, nyokap pasti takut melihat gw mau marah2. Dan pikiran itu sontak membuat gw terjun kedalam keadaan sedih setengah mati. Rasanya gw ini sudah benar menjadi monster, membuat keluarga takut, apalagi om gw dateng dan mengatakan bahwa nenek kaget2 melihat gw, bokap sudah lelah, dan nyokap hampir sakit saat melihat gw mengamuk seminggu yang lalu. Hati gw hancur sekali. Sediiiiih sekali rasanya memiliki diri yang bisa tiba2 marah tanpa hujan atau angin, marah dan melukai diri sendiri bahkan orang lain, merusak barang, seperti setan. Sedih sekali gw melihat diri gw. Saat itu juga gw menangis kencang sampai susah bernafas saking terisak-isaknya. Energi gw seketika hilang. Harapan gw sirna. Keinginan untuk mencapai cita-cita dan impian lainnya entah kemana. Yang ada hanya kesedihan yang mendalam. Tapi gw berkomitmen dengan diri gw dan psikiater gw untuk datang ke RS jika berada dalam kondisi seperti itu. Akhirnya nyokap dan om membawa gw ke RSCM untuk bertemu residen jaga. Gw sempet ngobrol2 dengan dokter jaga. Tapi gak terlalu lama juga karena saat itu kebetulan ramai pasien. Setelah sedikit lebih lega gw pulang dan tidur. Gw pikir gw sudah baik-baik saja.

Keesokan harinya, gw bangun masih dalam keadaan sedih. Tapi siangnya gw paksakan pergi ke perayaan hari kesehatan jiwa di sebuah mall. Gw harap dengan bertemu teman-teman kesedihan gw bisa hilang. paling nggak gw ada usaha untuk keluar dari kesedihan itu. Tapi ternyata sama saja. Sesampainya di rumah gw masih saja sedih. Mana saat itu tak ada satupun orang yang bisa gw ajak cerita. Psikiater, mas dokter, teman2, tak ada satupun yang merespon. Gw benar-benar merasa kesepian. Forever alone dan menderita. Sedih sekali rasanya. Dan tiba2 munculah keinginan untuk bunuh diri. Awalnya gw abaikan saja. Dan berusaha mengalihkan ke hal yang lain seperti nonton TV atau main games. Besoknya lagi, di sore hari akhirnya mas dokter merespon bbm gw menanyakan apa yang terjadi. Gw katakan gw sedih dan kecewa melihat diri gw seperti itu. Dan mas dokter lah yang 'menampar' gw dengan wejangan tentang progress dan regress ini. Yang dia bilang pertama, "Berhenti berpikir bahwa ini akan segera selesai." Dalam hati gw, "Ciyus ? Mi apah ? Macacih gw harus menderita selamanya.." errr sorry kok jadi menjijikan gini pake ciyus2an. Tapi ternyata maksudnya semua ini akan berakhir dalam waktu yang gak cepat, butuh waktu lah. Gw jadi relaps lagi malahan mungkin karena gw berharap segera berhasil sukses sembuh. Tanpa mau menerima perkembangan yang sedikit2. Kemunduran dikit itu biasa. Harapan yang selalu ingin progressing progressive itu yang sangat menganggu. Mungkin kemunduran itu malah bagian dari progress itu sendiri. Nggak ada jalan pintas. Ibaratnya skrg gw lagi dijalan, gw lagi ngelewatin jalan macet. Nggak bisa langsung loncat ke tol. Gw jadi terkesan gak ada kemajuan karena gw kepinginnya melompat disaat yang saat ini dibutuhkan merangkak dulu. Dan gw overreact dengan kemunduran gw, dalam hal ini relaps gw. Gw 'tertampar' sekali dengan ucapan mas dokter ini. Sejak mengenal mindfulness dan berhasil menerapkannya *walau gak sering juga* gw merasa memiliki harapan yang sangat besar. Gw akan segera sembuh. Gw menaruh harapan besar kepada progress gw. Gw gak berpikir bahwa progress itu butuh waktu. Makanya disaat gw mengalami sedikit kemunduran dengan relaps, gw jadi seperti terjatuh dari ketinggian. Yang tadinya berharap tinggi banget, tp gagal, dan jadi sedih setengah mati sampai depresi. Memang analisa mas dokter itu tepat seperti apa yang gw rasa. Sejak kecil memang gw hidup serba instant. Mau ini dapet, itu dapet, usaha minimal, tapi luckily bisa berhasil. Sekarang gw dihadapkan ke sebuah perjalanan panjang yang makan banyak waktu dan penuh tantangan. Tapi gw masih suka berpikir instant. Jadilah kaya gini.

Setelah mendapat wejangan dari mas dokter, gw merasa lebih baik. Gw tidur. Tapi besoknya, masih aja gw depresi. Ya memang beginilah adanya yang disebut depresi itu. Di gw, nggak semudah itu untuk keluar dari depresi. Seharian dari mulai bangun tidur sampai malam pikiran gw terus menerus tentang bunuh diri. Kali ini memang aneh. Gw pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, tapi yang dulu sekedar "Hidup segan mati tak mau". Cuma rasa ingin hilang dari bumi ini. Tapi yg kali ini gw seriusah ingin hidup gw berakhir. Jika ditanya alasan gw mati, gw nggak tahu. Entah kenapa itu pikiran terus muter di kepala gw. Gw sudah googling obat2an apa yang enak untuk diminum, udah nelpon apotek deket rumah juga tapi obatnya kosong. Sedangkan mau keluar ke apotek lain, gw terlalu malas karena kalau depresi magernya ampun2an. Gw maunya ada yang beliin gw obat, gw minum, dan gw mati. Case closed. Tapi ya masa iya ada yang mau membantu gw bunuh diri. Akhirnya gw guling2an di kamar dibawah awan kesedihan dan pikiran untuk bunuh diri. Sorenya bbm gw dibalas oleh psikiater gw dan akhirnya gw terpaksa ke RS lagi karena pikiran itu bener2 mengganggu. Kali ini nggak cuma sekedar ngobrol. Tapi gw disuruh rawat karena emang gw sendiri tersiksa kalau pulang masih dengan pikiran kaya gitu. Thanks god bangsal jiwa lagi penuh jadi gw dirawatnya di bangsal biasa. Bukan berarti gw seneng dirawat loh, cuma syukur aja dirawatnya nggak di bangsal jiwa. Dan dirawatnya juga gak lama. Cuma 2 hari. Selama dirawat gw dikasih obat yang efek sedatifnya kuat jadi gw bener2 memanfaatkan waktu untuk tidur tidur dan tidur. Dan ngobrol sama psikiater gw juga pas visit. Hari ini gw pulang dalam keadaan jauh membaik. Sedih sudah nggak. Tapi masih nggak nafsu ngapa2in walaupun masih bisa gw paksakan.

# Intinya ? #

Jadi pelajaran yang bisa gw ambil, seperti kata mas dokter, kadang kita berhadapan dengan jalan yang panjang untuk mencapai sebuah tujuan. Selama perjalanan itu kita nggak pernah tahu apa yang harus kita hadapi. Termasuk kemungkinan adanya sedikit kemunduran. Jangan bereaksi berlebihan dengan kemunduran itu dan malah jadi sedih terus lupa dengan perjalanan sesungguhnya. Tapi stay fokus dengan tujuan kita, terima regress menjadi bagian dari progress. Tidak ada yang namanya jalan pintas. Tuhan sudah menetapkan jalan hidup seseorang. Sekarang tinggal bagaimana diri kita 'berjalan'. Kalau kemampuan saat ini masih merangkak, ya tidak apa-apa. Kalau mau berlari boleh saja tapi resikonya jadi mudah lelah. Yang terpenting, kita terus bangkit dan maju. : )



12 comments:

  1. Kesimpulan terakhirnya sudah bagus.. Sayangnya yg anda tulis pada kesimpulan pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah teori belaka apabila kamu memberikan secuil saja kelonggaran pada dirimu untuk bertindak destruktif pada saat fase depresi..

    Memukul pakai potongan kayu, memukul dasbor mobil, berteriak-teriak, pergi keluar rumah dengan keadaan marah dan depresi, dll.. Saya kira kondisi anda saat ini tidak memungkinkan untuk rawat jalan.. Harus rawat inap lagi..

    Percayalah, tindakan-tindakan anda yg berbahaya itu bisa juga mengancam keselamatan orang lain, termasuk ibumu yg selalu spot jantung atas perilakumu.. Dan jangan sampai menyesal apabila terjadi hal-hal yg tidak diinginkan karena perilakumu.

    ReplyDelete
  2. Nah iya itu dia. Memang sepanjang perjalanan penyakitku, ada kalanya aku bisa menerima, atau kadang malah merasa dikutuk dan membangkang. Dan kurasa kedepannya masih ada kemungkinan aku tiba2 pengen marah. Dan mungkin juga aku tidak selalu berhasil melaluinya. Tapi at least pada setiap kejadian aku belajar, walaupun disaat aku sedang irritable, semua yg kupelajari tak terpikirkan olehku. Yang pasti aku konsekuen untuk mencari bantuan dan merelakan diri ke RS untuk dapat pertolongan. Masalah dirawat apa nggak itu urusan psikiater yang merawat. Beliau lebih tau.

    ReplyDelete
  3. Lalu apa jawaban psikiatermu..? Coba anda tanya ke psikiaternya, apakah saya perlu rawat inap untuk kondisi saya yg sekarang ini.. Jika memang harus rawat inap, maka saya dengan SENANG HATI menjalaninya..

    Cobalah jujur memberi tahu psikiatermu yg kamu tulis di blog ini tanpa ada satupun yg ditutup-tutupi.. Kalau memang jawabannya LEBIH BAIK rawat inap meskipun jika dipaksa tetap bisa rawat jalan, maka itu artinya pilihan terbaik untuk merubah hidupmu adalah rawat inap.. Progress yg baik harus seminimal mungkin regresifnya (lebih bagus lagi tanpa regresif)..

    Percayalah, hidupmu memang bukan di tangan psikiater, tapi PERHATIKAN perkataan psikiatermu secara seksama.. Jika yg saya tulis di atas diucapkan hampir sama oleh psikiatermu, maka pilihlah untuk rawat inap.. Dan itulah yg menyelamatkanmu..

    Semua orang di dunia ini pasti lebih memilih rawat jalan daripada rawat inap.. Dan saya tahu pilihan rawat inap memang lebih berat dengan berbagai faktor.. Nah, tunjukkan blog anda pada psikiater anda kalau belum pernah anda tunjukkan.. Terbukalah 100% pada psikiatermu meskipun tidak nyaman, karena anda harus paham bahwa anda adalah orang dengan kasus khusus yg SANGAT butuh bantuan psikiater.

    ReplyDelete
  4. Yup psikiater gw tahu apa yang gw tuliskan, bahkan lebih. Ada bagian yang mungkin tidak gw tuliskan. Hubungan gw dengan psikiater bahkan lebih dari sekedar pasien - dokter. Tak ada yang gw rahasiakan demi kebaikan gw sendiri.

    ReplyDelete
  5. Jika hubungan anda dengan psikiater anda memang benar seperti itu, maka itu bagus.. Tetaplah seperti itu.. Dan ingat, jangan pernah kecewakan lagi psikiater dan orangtuamu untuk yg kesekian kalinya.. Kasihan mereka.

    ReplyDelete
  6. Anonim di atas benar. Coba, ini kata-kata kamu kan: "Gw bersikeras tidak mau dibawa ke RS karena gw nggak mau dirawat lagi. Cukup sudah dengan rawat apalagi di bangsal jiwa." Cari sendiri yah di paragraf mana. Karena kamu sendiri sudah defensif, ya tidak heran jadinya malah seperti ini.



    Bayangin, kalo akhirnya kamu memaksa jadi dokter juga terus tiba-tiba jadi kayak yg kamu tulis. Apa ga lari semua pasien-pasienmu? Tidak semua profesi cocok dengan bipolar loh. Contohnya profesi dokter. Saatnya kamu belajar jadi ibu rumah tangga yg baik. Itu akan lebih bijak daripada jadi dokter tapi dengan kondisi seperti ini.



    Bukan bermaksud menjatuhkan, tapi ini real life, kadang tidak bisa semua yg kita inginkan bisa kita dapatkan. Dan saya tidak mau kamu jadi menyesal setelahnya karena tidak pernah diperingatkan sebelumnya tentang hal ini.

    ReplyDelete
  7. Menarik sekali ceritanya Inilah Diriku.
    Konsep Mind Therapi yang anda jalani sudat tepat sebenarnya. Kombinasi konsultasi, obat dan mengenali/memahami pikiran. Benar apa kara psikiater anda, terapi ini dan terapi apa pun perlu waktu sampai anda benar2 dapet hasil optimal.

    Masalahnya anda terlalu berharap akan segera berhasil, namun kenyataannya tak semudah itu dan anda merasa sangat kecewa. Punya harapan tinggi gak apa-apa, tapi harus diimbangi dengan kesiapan menerima hasil terburuk, agar ketika tak sesuai harapan anda tak terlalu kecewa karena anda sudah antisipasi sebelumnya.

    Saran saya sih, selain menjalankan Mind Therapy dengan disiplin dan konsisten, lebih bagus kalau anda jalani aktivitas yang mendukung terapinya, antara lain: menjalani aktivitas fisik (olahraga), aktivitas kreatif (melukis), aktivitas sosial dan aktivitas spiritual.

    Aktivitas fisik bisa menjadi media yang cukup efektif untuk menyalurkan dan meredam kemarahan anda yang bisa muncul tiba-tiba dan meledak tak terkendali. Olah raga permainan yang melibatkan banyak orang seperti basket atau voli bisa jadi pilihan. Di lapangan anda bisa teriak sambil belompat ketika berhasil memukul atau menyarangkan bola ke jaring misalnya. Itu bisa melepaskan emosi anda tanpa merusak atau melukai diri atau orang lain. Itu hanya salah satu contoh aja. Banyak hal positif dari olahraga yang bisa melatih diri dalam meredam dan mengendalikan emosi. Dan semua itu dilakukan dengan senang hati, tanpa merasa terpaksa seperti menjelani terapi.

    Begitu pula dengan aktivitas kreatif seperti melukis. Anda sudah melakukannya bukan.

    Semua itu memang perlu ketekunan, disiplin dan kesabaran. Tak bisa dirasakan hasilnya scara instan dan cepat. Tapi bisa dirasakan dan dimonitor hasilnya dari waktu ke waktu.

    Itu aja saran saya ID, semoga bermanfaat :)

    ReplyDelete
  8. @anonymous Sebenarnya keputusan aku untuk melanjutkan menjadi dokter itu nggak semata-mata keputusanku sendiri. Aku seringkali berpikir seperti itu, sempat ingin mundur, pantaskah aku menjadi dokter, bisakah aku mengontrol diri, dan aku mendiskusikan hal ini dengan psikiater. Tak hanya satu psikiater. Kalau dihitung mungkin ada 5 orang lebih. Baik psikiater yang kukenal dekat, dosen, psikiater yang membaca blog, dan residen ( dokter yang lagi ambil spesialis ) psikiatri juga. Mereka semua ternyata melihat ada potensi besar dalam diriku untuk bisa menjadi seorang dokter atau mungkin psikiater sukses. Yang kuceritakan di blog tentunya bukan seluruh kisah hidupku. Kebanyakan pengalaman disaat relaps, jadi mungkin kesannya aku kacau sekali. Tapi terima kasih sudah mengingatkan, aku sadar memang tidak mudah jadi dokter bahkan untuk orang normal. Aku hanya berusaha semaksimal mungkin. Dan aku juga belajar mengenai profesionalitas. Kalau memang seandainya aku benar2 kambuh tidak bisa terkontrol di saat tugas, aku akan istirahat dulu. Karena aku sudah disumpah untuk tidak membahayakn pasien. Apakah nantinya aku benar jadi dokter atau tidak, itu urusan Tuhan. Aku hanya berusaha mencapai impian. Kalau memang bukan takdirku pasti Tuhan punya rencana yang lebih baik. Semoga dapat dimengerti. :)

    @Tarjum Terima kasih mas sarannya. Saat ini untuk olahraga mungkin aku masih melakukan yang simple seperti treadmill. Tapi sekarang lagi seneng main drum dan melukis. Lumayan sekali untuk menyalurkan tenaga. Pengen main tennis sih sebenarnya. Semoga cepat terealisasi.

    ReplyDelete
  9. Kenapa bisa sampai forever alone..? Emang ga ada pacar..?

    ReplyDelete
  10. coba mb kalau lagi marah ambil wudhu trus sholat....:)

    ReplyDelete